Sunday, January 13, 2019

BANTARAN KALI



Cerpen Korrie Layun Rampan

    
Tak seorang pun yang tak tahu bahwa kawasan itu merupakan langganan banjir. Oleh karena itu pemberitahuan aparat keamanan dan lurah setempat tak ditanggapi dengan sepenuh hati, karena setiap tahun banjir selalu tiba secara merajalela.
   
“Akan ada air kiriman,” Pak Kiman menyampaikan berita yang dibawa Undan dari kelurahan. “Supaya kita di sini lebih hati-hati.”
    
“Biasanya kita juga hati-hati,” Tiwi menyampari berita yang sudah dianggap basi.

“Paling-paling juga sampai seperempat dinding.”
    
Anak-anak pada tertawa, lebih suka kalau ada banjir, karena dapat berenang sesuka hati.
    
“Kiriman ini akan lebih banyak,” Kiman lebih memperingatkan. “Di udik sana banjir tak tertahan karena hujan lebat beberapa hari.”
    
“Kiriman macam apa?” Acan bertanya karena tak mengerti. “Air dikirim dari mana?”
    
“Kiriman dari langit,” seseorang menimpali. “Dari pedalaman Bogor atau Sukabumi, ngkali. . . .”
   
 “Kiriman, ya kiriman. Maksudnya air tak lagi tertahan oleh resapan tanah di udik sana. Lingkungan sudah banyak dirusak karena pemukiman dan pengolahan hutan…,” Kiman juga kehabisan bahan pengetahuan untuk menjelaskan. “Yang pasti banjir akan tiba kemari!”
    
Ada juga yang menanggapi  secara serius akan tetapi tak tahu harus berbuat apa. Mau pindah rumah? Ke mana? Ada lagi yang tak acuh, karena menganggap banjir perkara rutin di Jakarta, apalagi di bantaran Kali Ciliwung. Setahun bisa dua tiga kali banjir. Lalu apa yang dikhawatirkan? Termasuk Masta yang memang memikirkan keselamatan keluarga, akan tetapi tak mampu berbuat apa-apa, karena nasib membawa diri hanya mampu hidup di bantaran kali.
    
Hanya kawasan itu yang murah. Dahulu tanahnya tinggal matok, dan membangun gubuk. Lama kemudian bantaran itu dijualbelikan, dan Masta membelinya dengan harga yang masih terjangkau. Ia membangun rumah yang sederhana di situ, dan kemudian membangun rumah tangga. Istrinya mulanya tak betah, akan tetapi lama-kelamaan mampu juga beradaptasi. Bahkan tiga anak yang dilahirkan istrinya tidak jarang ditemukan berenang di kali yang butek itu bersama kawan-kawan mereka sebaya. Mereka tampak riang-gembira, apalagi kalau musim banjir tiba. Masta tidak merasa khawatir, karena anak-anaknya mahir berenang sebab setiap hari mereka memang hanya mandi di kali itu.
    
Sebagai kawasan kumuh, kawasan itu memang sangat padat penghuni. Suara radio berbaur dengan suara televisi dan bercampur baur dengan tangisan kanak-kanak, sumpah serapah wanita-wanita yang sakit hati, omelan para ibu yang kekurangan uang belanja, dan berbaur pula dengan teriakan penjaja roti dan pedagang keliling. Kadang suara itu ditingkahi oleh bunyi pertengkaran—entah suami istri entah pasangan kumpul kebo—dan kadang kala pengeras suara muarahan yang dipasang untuk sunatan atau mantenan meledak-ledak dengan lagu-lagu dangdut atau orkes malayu yang bising karena pitanya sudah tua yang dibeli di pedagang loak. Kadang kala keributan muncul seperti setan di malam buta yang disulut oleh beberapa hostes atau bencong yang menyewa kamar-kamar sempit di kawasan itu.
    
Penghuninya saling tak acuh dan sering sindir-menyindir bila ada yang membeli radio atau televisi baru. Sering pula gunjing dan isu merebak tentang persoalan-persoalan sepele yang dibumbui di sana-sini menjadi sensasi murahan yang justru sering membuat kuping menjadi panas. Akan tetapi jika ada maling atau pencopet yang lagi sial, para penghuni merupakan kawula yang kompak dalam hal menggebuk dan menghakimi. Sehingga kawasan itu menjadi neraka bagi orang-orang yang berniat jahat, dan para maling kelas teri maupun mencopet yang kurang pengalaman, berusaha tidak tersesat ke bantaran neraka tersebut. Sementara maling berskala besar dan para koruptor merasa tempat itu sangat menjijikkan, dan mereka enggan menapakinya, karena tidak sesuai dengan martabat mereka yang beruang.
    
Masta merasa sudah semestinya ia melibatkan diri seperlunya saja untuk lingkungan itu, terutama ia memang tidak banyak waktu untuk kongkow atau bergunjing, maupun main remi. Pagi-pagi ia sudah harus siap pergi kerja. Sejak ia belum menikah hingga memperoleh anak tiga, ia memang tampak paling mapan di antara seluruh penghuni. Ia merasa melibatkan diri dengan tetek-bengek bersama penghuni bantaran hanya membuang waktu dan energi. Kerena itu ia biasanya berangkat bekerja pagi-pagi sekali, dan pulang sudah larut senja. Meskipun pangkatnya tak naik-naik dan gaji pas-pasan, ia merasa lebih baik menghabiskan waktu di kantor daripada bergunjing tentang hal-hal yang tidak berguna. Selain itu, kawasan bantaran makin hari makin sumpek—bukannya bertambah lega—karena penduduknya hampir setiap hari bertambah, baik karena kelahiran maupun pendatang baru. Apalagi pada musim-musim tertentu, para pedagang gelap begitu saja menyeludup di rumah-rumah petak yang sumpek dan esoknya berkeliaran mencari kerja secara serabutan. Masta tahu, jika muncul situasi seperti itu berarti di desa terjadi paceklik, dan ia harus lebih waspada sebab kemungkinan para pendatang nantinya akan menggunakan segala cara untuk mampu bertahan hidup di Jakarta.
    
Sungguh Jakarta bukanlah tempat yang nyaman dan mewah untuk dihuni. Bagi kaum kere dan pemulung, kaum pencari kerja yang gagal dan frustrasi karena tidak memiliki keahlian khusus, Jakarta lebih mengerikan dari rimba yang menyimpan singa dan ular berbisa. Ternyata manusia sering tidak bersahabat ketimbang pohon, air, atau binatang. Pilihan karena lapar dan menjadi pengemis sering harus diterima dengan kemewahan. Apa gunanya rasa malu kalau nyawa harus melayang karena tak mendapatkan makanan? Ternyata kelaparan dapat membuat orang menjadi buas dan tidak bertimbang rasa.
    
Apa enaknya disikat kalau ada kesempatan menyikat? Kawasan bantaran kali merupakan kawasan yang pas untuk melihat model perjuangan hidup di tengah rimba Jakarta. Sangat sukar orang membedakan siapakah sebenarnya wanita baik-baik dengan wanita bunga raya? Antara ibu rumah tangga dengan penjaja cinta? Antara pekerja kantoran dengan penipu dan tukang kompas? Antara anak yang berayah ibu dengan anak yang hanya beribu? Semuanya berbaur menjadi satu, dan di dalam sejuta warna kehidupan manusia, denyut kehidupan bantaran itu memberi irama kepada Jakarta.

                                                          ***
    
Pagi-pagi Masta sudah berpesan kepada istrinya agar nelepon saja ke kantor kalau banjir makin meninggi. Karena hujan sudah mulai reda, Masta merasa lebih aman, dan hampir seharian ia bekerja seperti biasa. Apa istrinya lupa nomor teleponnya? Atau telepon umum rusak? Memang akhir-akhir ini telepon umum selalu rusak dan tak diperbaiki. Atau memang tidak terjadi apa-apa?
    
Akan tetapi hati Masta merasa ada sesuatu yang tidak beres. Karena itu ia minta pulang sebelum jam kantor bubaran. Ternyata bus ke arah rumahnya lama sekali tidak melintas. Ia bertanya kepada beberapa orang di halte, baru ia tahu kalau jalan utama di sebelah bantaran kali telah kebanjiran dan puluhan kendaraan terjebak di tengah jalan, sehingga mogok dan jalan ditutup. Ia mencari bajaj, juga sangat sulit, karena bajaj tidak mau narik ke arah yang ditujunya.
    
“Banjir, Bang,” tukang bajaj berkata. “Tidak bisa lewat.”
    
Masta akhirnya berjalan kaki. Memang benar, jalan utama yang menuju ke arah rumahnya telah kebanjiran. Tak satu pun taksi atau metro mini yang menuju ka arah itu. Bajaj yang biasanya suka meliuk-liuk mencari jalan alternatif sama sekali tak mau ambil risiko.
    
Banyak sekali orang yang berjalan kaki. Terpikir oleh Masta kalau saja ia ngeredit sepeda, ia dapat naik sepeda. Kalau menggunakan sepeda lebih aman dibandingkan menggunakan sepeda motor. Tetapi untuk sepeda berapa ia harus mengeluarkan biaya? Sementara ketiga anaknya sudah mulai membutuhkan biaya sekolah. Belum lagi pakaian, dan kebutuhan istrinya serta keperluan sehari-hari. segalanya melonjak naik, sementara gaji tak naik-naik. Sebagai karyawan rendahan, berapa sebenarnya yang ia dapatkan?
    
Sudak sore sekali ia tiba di kawasan bantaran kali. Matanya hampir-hampir tidak percaya kalau banjir demikian meluap. Manusia berjubelan menyelamatkan harta benda dan apa saja yang bisa diselamatkan. Barang-barang bertumpukan tak karuan di sisi tanggul kali dan di atas jalan raya.
    
Antara terang dengan gelap ia masih dapat melihat istrinya menggigil di atas bubungan atap rumahnya bersama ketiga anaknya. Bahkan anaknya yang kedua tampak memain-mainkan kakinya di air yang keruh di antara serakan barang-barang yang diselamatkan istrinya di bubungan itu. Rumahnya yang tinggal bubungan, sementara rumah lainnya ada yang hilang sama sekali, dan sebagian tampak mencapai setengah dinding dan lainnya terendam lantainya. Bantaran itu ternyata sudah menjadi lautan yang menakutkan, karena di bagian tengah arus kali mengalir dengan deras sekali. Kadang derunya disertai kampar-kampar kayu dan hanyutan pohon-pohon yang tumbang.
    
Warga bantaran itu semuanya seperti mabuk kepayahan karena seharian telah berusaha menyelamatkan harta benda masing-masing. Masta berteriak kepada istrinya dan ketiga anaknya agar mereka meninggalkan atap bubungan.
    
“Abang lambat sekali pulang,” ia mendengar suara istrinya seperti tangis. “Kami tak bisa nelepon. Semua telepon terendam air. . . .”
    
Saat ia mengambil ancang-ancang akan berenang, tiba-tiba ada suara gemeretuk di arak kali yang menandai bahwa air sedang membawa barang-barang hanyutan yang besar. Serentak secara bersamaan terdengar bunyi ledakan yang dahsyat di arah bagian hulu dan tampak semburan api menjolok angkasa. Segera saja rumah-rumah yang beratap aneka benda dijilat api dengan cepat dan menyusul ledakan lainnya yang membuat bantaran itu seperti terbanting ke dalam gelombang neraka. Warga tampak panik dan berusaha menyelamatkan diri dari amukan api bersama arus benjir yang melanda demikian deras. Toko minyak penjual bensin terbakar?
    
Tampak pohon berdiri terhanyut di dalam kali dan sebentukan rumah mengikuti arus sungai. Bersama menghilir nyala api menjilat atap-atap rumah serta bubungan yang masih belum terendam banjir.
    
Beberapa rumah yang berada lebih dekat ke bibir kali ikut tercebur oleh arus yang deras dan hanyut bersama kampar kayu yang menyeretnya dari hulu. Arus air makin menderu dan suara amukan api juga makin menderu. Beberapa orang berteriak dan memanggil, beberapa yang lain terdengar mengucapkan sumpah serapah, sementara anak-anak dan kaum wanita ada yang meraung dan tersedu.
    
Masta mencapai bubungan atap rumahnya. Matanya terbelalak. Dari arah hulu gelombang api yang menjilat tumpahan minyak seakan berlari menuju bubungan tempatnya berdiri. Istrinya tampak pucat dan ketiga anaknya berteriak sambil merangkul tubuhnya. Kelima orang itu tampak seperti orang bergumul, sementara lidah api dari minyak yang terbakar makin mendekat ke arah mereka. Tiba-tiba bubungan itu tergoyang, dan beberapa orang yang berada di tepi berteriak keras sekali.

“Masta! Awas! Rumahmu roboh dihantam pohon tumbang! Awas! Berenang ke tepi!

Api! Api! Api. . .!”
  
Masta merasa tubuhnya limbung. Selebihnya ia tak ingat lagi apakah ia terbakar atau lemas tenggelam ke dalam banjir. Istri dan ketiga anaknya?
    
Api sudah sampai di bubungan. . . .

 

                                                                              Jakarta, 12 Maret 1996(Hadiah untuk Mas Ahmadun Yosi Herfanda)


0 comments: