Tiga


Tanggal 24 September 1526, pasukan perang Pangeran Samudera yang berkekuatan 6.000 orang berhasil mengalahkan pasukan perang Pangeran Temenggung. Pasukan gabungan yang terdiri dari pasukan lokal sebanyak 4.000 orang  di bawah komando Panimba Sagara dan pasukan perang Kerajaan Demak sebanyak 2.000 di bawah komando Khatib Dayan, rupanya terlalu kuat bagi pasukan perang Pangeran Temenggung.

Pangeran Temenggung berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim yang mengadilinya. Namun, Pangeran Samudera kemudian mengampuninya dengan syarat Pangeran Temenggung harus mengasingkan diri ke suatu tempat yang jauh dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar. Meskipun telah hidup di pengasingan, namun, pada tahun-tahun pertama pengasingannya itu, Pangeran Temenggung diketahui telah beberapa kali mengerahkan orang-orang suruhannya untuk mengganggu keamanan di wilayah Kerajaan Banjar.

Selepas kemenangannya itu maka wilayah kekuasaan Pangeran Samudera selaku kepala negara dan kepala pemerintahan di Kerajaan Banjar menjadi semakin bertambah luas saja, karena dengan kemenangannya ini maka semua  daerah yang selama ini dikuasai oleh Pangeran Temenggung selaku kepala negara dan kepala pemerintahan di Kerajaan Negara Daha dengan sendirinya langsung masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar. Pangeran Temenggung menyerahkan kekuasaannya kepada Pangeran Samudera dalam suatu upacara kenegaraan yang diselenggarakan secara khusus di kota Muara Banjar. Sebelumnya wilayah Kerajaan Banjar sangat sempit, cuma sebatas pada daerah di sekitar kota Muara Banjar saja.

Pendopo Istana Kuin tampak cerah ceria dengan hiasan warna-warni yang bergantungan di sana-sini, baik   di luar maupun di dalam pendopo Istana Kuin. Pendopo Istana Kuin sengaja dihiasi sedemikian rupa untuk memeriahkan hari itu penobatan Pangeran Samudera sebagai raja di raja Tanah Banjar  dengan gelar Sultan Suriansyah. 

Pada hari penobatannya itu orang-orang Tanah Banjar menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri suatu peristiwa bersejarah yang  sama sekali tak pernah mereka bayangkan akan terjadi. Ketika itulah mereka menyaksikan tegaknya sabda pandita ratu mendiang  Maharaja Sukarama yang selama ini dilanggar oleh Pangeran Temenggung.

Berbeda dengan penobatan para pendahulunya, penobatan Sultan Suriansyah sebagai raja di raja Tanah Banjar jauh lebih meriah dan gegap gempita. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa  tampilnya  Sultan Suriansyah sebagai raja di raja Tanah Banjar jauh lebih dramatis dibandingkan dengan para pendahulunya.

Bila semua pendahulunya, naik tahta dengan mulus, maka proses naik tahtanya Sultan Suriansyah  agak berliku-liku, tersendat-sendat, dan bahkan sempat tertunda-tunda selama beberapa tahun. Memang, berbeda dengan para pendahulunya yang mewarisi tahta kerajaannya langsung dari ayahandanya masing-masing, Sultan Suriansyah mewarisinya dari kakeknya, karena ayahnya Pangeran Manteri Jaya telah meninggal dunia ketika masih berstatus sebagai Putera mahkota.

Pada hari penobatannya itu Pangeran Samudera dapat dengan mudah mengenakan mahkota pusaka. Tidak seperti Pangeran Temenggung yang dulu langsung terhuyung-huyung begitu mencoba mengenakan mahkota pusaka. Bagi warga negara Kerajaan Banjar hal itu merupakan petunjuk bahwa Pangeran Samudera memang berhak memangku jabatan sebagai raja di raja Tanah Banjar.

“Hamba rakyatku sekalian. Hari ini adalah hari yang paling bersejarah bagi kita semua. Hari di mana kita bisa menegakkan sabda pandita ratu mendiang Maharaja Sukarama,” ujar Sultan Suriansyah membuka pidato kenegaraannya di hari pertama masa pemerintahannya sebagai raja di raja Tanah Banjar.

“Semua anugerah yang kita terima dari Allah swt ini tidak bisa dilepaskan dari perjuangan gigih pasukan perang dinding raja di bawah komando Panimba Sagara dan bantuan kekuatan yang diberikan oleh sahabat kita pasukan perang dari Kerajaan Demak   di bawah komando Khatib Dayan. Pada kesempatan ini izinkanlah saya secara khusus mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada para pahlawan kita tersebut.”

“Hidup Panimba Sagara!”

“Hidup!”

“Hidup Khatib Dayan!”

“Hidup!”

“Hamba rakyatku sekalian. Mulai hari ini aku menyatakan diriku telah memeluk agama Islam. Hal ini sesuai janjiku kepada Sultan Terenggono.”

Sejak itu pula, Pangeran Samudera resmi memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Suriansyah. Ketika melakukan pengucapan dua kalimah syahadat Sultan Suriansyah dibimbing langsung oleh Khatib Dayan, panglima perang Kerajaan Demak yang juga dikenal sebagai seorang ulama yang saleh.

Beberapa bulan kemudian .....

“Anakda Sultan Suriansyah. Dari hari ke hari semakin banyak saja warga negara Kerajaan Banjar yang memeluk agama Islam. Sehubungan dengan itu, ayahanda berpendapat bahwa sudah tiba saatnya bagi anakda untuk membangun sebuah masjid yang cukup memadai daya tampungnya di pusat kota Muara Banjar ini.  Selain bisa difungsikan sebagai tempat menyelenggarakan shalat Jum’at, masjid dimaksud juga bisa dimanfaatkan oleh para ulama untuk mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang dimilikinya kepada para pemeluk agama Islam,” ujar Khatib Dayan menyarankan kepada Sultan Suriansyah.

“Benar sekali, ayahanda. Anakda juga berpikiran demikian. Sesungguhnya, sudah sejak lama anakda ingin membangun masjid sebagaimana yang ayahanda sarankan itu. Bahkan, anakda sudah memilih lokasi pembangunannya, yakni di tepi Sungai Kuin tak jauh dari Istana Kuin ini.”

“Syukurlah, kalau begitu.”

Berita tentang keinginan Sultan Suriansyah mendirikan masjid besar di lingkungan Istana Kuin segera beredar ke segenap pelosok negeri Kerajaan Banjar. Berkenaan dengan rencananya itu, Sultan Suriansyah membuka sayembara pencarian pohon ulin yang terbuka untuk umum. Bagi anak negeri yang mampu menebang dan menyerahkan 4 batang pohon ulin sepanjang 20 meter dengan garis tengah sepemeluk orang dewasa akan diberi hadiah berupa uang dalam jumlah yang sangat besar. Pohon ulin dimaksud akan dijadikan sebagai tiang guru masjid, sayembara ini sengaja dilakukan karena kayu ulin seukuran itu tidak ada dijual di pasar kayu kota Muara Banjar, tetapi harus dicari langsung ke dalam hutan raya yang terletak jauh di pedalaman sana.

Tergiur dengan hadiah uang berjumlah besar yang dijanjikan oleh Sultan Suriansyah maka banyaklah orang yang sakti mendraguna mendaftarkan dirinya sebagai pesertanya. Memang, tidak sembarang orang mempunyai peluang besar dapat memenuhi keinginan Sultan Suriansyah tersebut di atas. Selain harus dicari ke tengah hutan raya yang angker dan  sulit dijangkau manusia, pohon ulin seukuran itu juga sulit ditebang dan bobotnya juga sangat berat. Sehingga untuk menebangnya dan lebih-lebih untuk membawanya ke luar dari lokasi  penebangannya ke lokasi pembangunan masjid diperlukan keahlian dan kekuatan fisik yang bersifat supranatural. Dalam hal ini orang-orang yang dapat mengemban tugas berat semacam ini bukanlah orang sembarangan, tapi adalah orang-orang yang memiliki kesaktian atau kedigjayaan di atas rata-rata.

Dari sekian banyak pendaftar, tersebutlah 2 kelompok  yang mendaftarkan diri sebagai peserta resmi sayembara pencarian pohon ulin ini. Kelompok pertama terdiri dari dua orang bersaudara kembar Sutakil dan Sutakul asal dari Desa Mantuil dan peserta ke-2 terdiri dari tiga orang kakak beradik Lamitak, Lamitik dan Lamituk berasal dari Kampung Taniran.

...selanjutnya


Klik Daftar Isi atau Bagian Empat


0 comments: