Saturday, March 13, 2021

Mengenal Sari Azis, Cerpenis dan Novelis Kalimantan Timur


Sari Azis. Perempuan kelahiran Samarinda ini merupakan satu-satunya orang yang berprofesi sebagai pengarang dalam keluarganya. 

Keterampilan menulis yang dimiliki Sari Azis sudah terlihat sejak masa remaja. Ia sudah mulai menghasilkan karya ketika umurnya masih 14 tahun. Pada waktu itu dirinya masih duduk di kelas satu sekolah menengah pertama. Karya sastra yang dihasilkannya tersebut adalah cerita pendek atau cerpen yang dimuat dalam Majalah Anita Cemerlang. Menurut Sari, kegiatan mengarang yang dilakukannya pada saat remaja bukan merupakan kegiatan serius. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan iseng dari seorang remaja. Keisengan Sari di masa remaja inilah yang akhirnya berlanjut menjadi serius. 

Setelah belasan tahun berlalu sejak karya pertama yang dibuatnya, ia merasa yakin menjadi seorang pengarang setelah menyadari bahwa kegiatan menulis sesuai dengan jiwanya dan mendatangkan pemasukan yang tidak sedikit. Karya-karya Sari Azis yang sudah diterbitkan berbentuk novel dan cerpen. Novel pertamanya berjudul "Sttt...I'm A Playgirl" diterbitkan oleh GagasMedia pada tahun 2005. Novel "Sttt...I'm A Playgirl" merupakan novel populer atau novel teenlit

Sebelumnya, Sari juga menghasilkan beberapa cerita pendek. Selain cerpen pertama yang dimuat dalam Majalah Anita Cemerlang, karya-karyanya yang berbentuk cerpen juga dimuat dalam Majalah Femina dan harian Tribun Kaltim. Dua cerpen Sari yang berjudul “Aku dan Mama” dan “Turunkan Aku" terpilih dalam Antologi Cerpen Remaja III dan Antologi Cerpen Remaja IV. Antologi tersebut merupakan kumpulan dari cerpen-cerpen pilihan dari sayembara mengarang yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (sekarang Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud RI). 

Cerpennya yang berjudul “Banana Street" juga dimuat dalam kumpulan cerpen ""Sayap Baruku seperti Bintang", sebuah antologi cerpen yang berisi 17 karya dari pengarang remaja Kalimantan Timur. Antologi cerpen ini diterbitkan oleh Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) Samarinda bekerja sama dengan Majalah Sastra Horison Jakarta dan Penerbit Mahatari Yogyakarta. 

Berikut salah satu cerpen pilihan karyanya..

Jangan Ambil Anakku

Menjelang senja bertalian dengan suara orang mengaji di masjid kecil di samping gang. Menjelang adzan menggema menguak keheningan sore nyaris buram.

"Lepaskan. Lepaskan.!" teriak Fandi. Meronta.

"Kau tidak bisa berenang. Kau bisa tenggelam!" teriak Dani, memeluk erat Fandi.

"Biarkan. Aku harus menyelamatkan Handa. Handa anakku. Tunggu Abah!" jerit Fandi, meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan tiga orang tetangganya.

"Wan, pegang tangannya!" perintah Dani, pada Arwan.

Sekuat tenaga Arwan memegang kedua tangan Fandi. Sekilas matanya melirik ke jalanan yang macet oleh banyaknya orang dan kendaraan yang terhenti. Pasti banyak yang ingin tahu apa yang sedang terjadi sore itu di pinggir Sungai Karang Mumus.

"Ingat. Kau masih punya anak istri. Biar kami yang mencari Handa," bujuk Dani.

"Cari. Cari. Ini sudah lama. Handa sudah hanyut!" teriak Fandi.

Air matanya mengalir. Terus meronta. Memanggil-manggil. Sementara di pinggir sungai semakin banyak orang berkerumun menonton. Fandi tak peduli seandainya ia harus mati. Yang penting Handa selamat. Fandi terus berusaha melepaskan diri. Ingin terjun ke sungai.

"Bagaimana ini? Sebentar lagi Maghrib," tanya Pak Sodang pada Dani.

Pak Sodang orang pertama yang melihat Handa dibawa arus. Berteriak-teriak minta tolong mengagetkan warga satu gang. Semula ia ingin terjun ke sungai menolong Handa, tapi seorang anak muda mencegahnya. Menyarankan Pak Sodang memanggil para tetangga yang lebih muda untuk menolong Handa. Sayang, hampir dua jam ditunggu tak juga muncul. Sesal memenuhi ruang hatinya. Seandainya ia terjun saat itu juga mungkin Handa akan selamat. Walau uzur ia masih kuat mengejar Handa. Menyesal menuruti saran anak muda itu. Melihat Fandi meraung, hatinya tambah teriris. Mereka tetangga sebelah rumah. Handa sering bermain bersama cucunya. Sesekali menumpang makan. Sudah ia anggap cucu sendiri. Kini, ia kehilangan tawa dan geliat lucunya.

"Tim SAR sebentar lagi datang, Pak," jawab Dani.

"Lebih baik Fandi dibawa pulang ke rumah dulu,” saran Pak RT.

"Handa...!" jerit Fandi, tangannya menggapai-gapai ke sungai.

Yang memeluk Fandi semakin banyak. Pak RT sibuk membujuk. Menenangkan. Fandi sudah tak mungkin ditenangkan. Untunglah muncul Pak Haji Jali, sesepuh di kampung mereka. Dengan mulut komat-kamit beliau mengusap dahi Fandi. Tak berapa lama Fandi pingsan. Tubuhnya terkulai lunglai digotong beramai-ramai. Dibawa pulang.

Malam menjemput naik. Suram berganti pekat. Kesunyian merona kelam. 

Di rumah, istri Fandi tak kalah histeris. Hingga malam tiba Inong sudah tiga kali pingsan. Tiap kali sadar ingat Handa, Inong menjerit dan pingsan lagi. Para tetangga tetap berjaga-jaga di pinggir Sungai Karang Mumus menunggu Handa muncul. Dari hulu hingga hilir dijaga. Fandi berjongkok di pinggir sungai memanggil-manggil anaknya. Beberapa teman sedang menggamit kanan dan kiri, takut Fandi nekat menceburkan diri ke sungai.

"Sepertinya Handa diambil hantu banyu," bisik Bu Munar.

"Sttt, jangan keras-keras. Nanti Inong dengar," balas Ola. Menaruh telunjuk di mulutnya, meminta Bu Munar berhenti menyinggung hantu banyu.

"Kalau tenggelam pastilah diambil hantu banyu. Sudah lama sungai itu tidak minta korban," kilah Bu Munar, berargumentasi. Kali ini intonasi suaranya merendah

Ola tak menyahut. Merasakan kepedihan Inong. Orang tua mana yang tak hancur bila darah dagingnya tertimpa bencana? Ia sendiri menyangsikan Handa akan selamat meskipun Tim SAR sudah dikerahkan. Sungai Karang Mumus terkenal ganas meskipun semakin hari semakin surut. Ola tak mengerti mengapa Handa yang tak bisa berenang nekad menceburkan diri ke sungai. Benarkah dugaan Bu Munar, Handa dikeriyau hantu banyu? Di Samarinda, cerita seputar hantu yang menguasai sungai itu memang melegenda. Banyak yang percaya itu sungguhan. Terlebih banyak pula yang pernah melihat keberadaan hantu yang katanya berwujud hitam dan sangat panjang.

Keesokan harinya mayat Handa ditemukan mengapung di hulu sungai. Tubuhnya bengkak dan rusak. Semua kuku tangan dan kaki hilang. Melihat mayat anaknya, Fandi jatuh pingsan. Demikian pula Inong. Saking histerisnya Inong sampai ingin membunuh dirinya sendiri. Ingin menyusul anak sulungnya. Beberapa orang ibu sampai kewalahan memegangi tubuhnya. Tenaga Inong bertambah dua kali lipat dari biasanya.

"Kenapa harus mati dengan cara seperti ini, Nak?" ratap Inong.

"Dengan cara seperti apa pun sama saja! Sama-sama mati!" sentak Fandi. Marah.

Beberapa kerabat berusaha menenangkan Inong yang mulai lemas lagi.

"Setidaknya tubuh Handa ditemukan, Kak." rintih Inong. Melolong.

"Dia tetap mati. Meninggal. Tidak hidup lagi. Tuhan memang keterlaluan!" teriak Fandi marah, "kenapa Kau ambil anakku yang tidak berdosaaa!!!"

Fandi memukuli tembok. Membuat gaduh hingga para pelayat berlarian masuk ke ruang tengah. Pak RT membujuk Fandi dengan kata-kata sejuknya. Haji Jali mengusap dahi Fandi. Membaca ayat-ayat suci Al Quran. Fandi mulai tenang kembali. Terduduk di lantai  dengan wajah memelas. Dani iba melihat sahabatnya. Musibah kadang datang tanpa diduga. Baru kemarin pagi ia melihat Handa bersama Fandi. Dan kini anak itu sudah tiada, kembali kepada pemilik-Nya.

"Istighfar, Fan. Istighfar. Allah sudah berkehendak Handa sudah tenang di sana," bujuk Julak Hindun. Penuh kasih. Menahan tangis.

"Handa itu anak kesayangan kami, Julak. Anaknya pintar. Handaa...." ratap Fandi. Fandi lunglai. Terduduk. Menangis sesunggukan. Musnah sudah harapannya. Mayat Handa sudah ditemukan. Padahal ia berharap Handa terdampar di suatu tempat. Diselamatkan penduduk. Atau masih mengapung di sungai memeluk batang pohon. Yang penting masih hidup masih bernafas. Masih punya harapan. Tapi, ini....

"Handa. Maafkan abah. Seandainya abah bisa berenang kau pasti masih hidup."

Inong pingsan lagi.

Sudah dua bulan ini setiap sore Fandi berdiri di ujung Sungai Karang Mumus. Menatap kosong riak-riak sembari berharap Handa muncul walau hanya sekejap. Hantu banyu kejam. Mengapa kau ambil anakku? Mengapa tidak anak lain saja atau aku sekalian. Oh Handa, lebih baik abah saja yang mati jangan Handa. Handa masih bisa menjaga Mama, Fitri, Kai, Nenek, Julak.

Fandi belum bisa menerima kenyataan. Padahal jasad Handa sudah dikubur. Sudah tenang di alam sana. Namun, ia masih setia menunggui Handa di pinggir sungai.

Mata Fandi berkaca-kaca.

Dani meminggirkan motornya di depan warung nasi.

"Untung kau datang, Dan. Fandi kumat lagi," sampai Teguh.

Dani menyeberang jalan kemudian menghampiri Fandi. Ditepuknya pundak Fandi. Tak ada reaksi. Fandi sibuk dengan pikirannya sendiri. Matanya masih tertuju ke sungai.

"Fan, Maghrib. Tidak baik berdiri di sini terus," bujuk Dani. Menepuk pundak Fandi.

"Handa.... Abah di sini, Nak. Abah menunggu Handa pulang," Fandi tak peduli.

Dani menghela napas.

Seperti hari-hari yang sebelumnya, Fandi baru kembali ke rumah setelah malam menjemput. Sejak anak sulungnya meninggal, Fandi tak pernah lagi salat berjamaah di masjid. Fandi masih menjalankan aktivitas rutinnya, bekerja di sebuah instansi pemerintah. Tapi, hari-harinya hanya diisi dengan bekerja dan melamun di pinggir sungai. Baru beranjak pergi setelah mengantuk.

"Aku tidur dulu," pamit Fandi. Usai makan malam.

Kening Inong berkerut. Tak bertanya lebih lanjut. Suaminya berubah kebiasaan setelah anak mereka meninggal. Tak pernah salat dan sangat pendiam. Melamun berjam-jam sesekali menangis.

"Abah. Ini Handa, Bah. Abah, bangun," panggil sebuah suara. Fandi terkesiap. Refleks bangkit dari tidur. Matanya membelalak, di depannya Handa berdiri memakai jubah putih. Wajahnya pucat. Matanya sayu.

"Handa, pakai baju apa ikam, Nak? Kayak main mamanda saja. Ganti, Nak. Ganti."

"Ini baju Handa. Di sini Handa sama dengan yang lainnya. Pakai baju ini."

Fandi berdiri. Wajahnya berseri-seri. Dipeluknya Handa.

"Abah, Mama, Fitri, semua rindu dengan Handa."

"Handa sudah senang di sini, Bah."

Fandi terperangah. Dilepasnya pelukan.

"Pulang, ya? Handa, kan, ingin jadi dokter. Kalau di sini mana bisa," bujuknya.

Handa menggeleng.

"Handa baik-baik saja di sini."

Fandi menangis sejadinya.

"Abah jangan menangis. Ikhlaskan Handa. Handa sudah tenang di sini."

Perlahan bayangan Handa menghilang.

Fandi terbangun dari tidurnya. Tubuhnya basah oleh keringat. Rupanya aku bermimpi. Abah ikhlas, Nak. Abah akan salat lagi. Mendoakan Handa di surga. Janji Fandi, dalam hati. Tulus.

Sepuluh hari kemudian.

Inong membukakan pintu. Fandi tersenyum. Inong mencium tangan suaminya.

"Abah...." Fitri berlari memeluk Fandi.

"Hari ini Fitri nakal, ya?" Fandi menggendong anaknya.

Fitri menggeleng manja. Fandi mengusap rambut puterinya.

"Bah, tadi Fitri lihat Kak Handa di situ!" tunjuk Fitri ke sudut

Fandi dan Inong tersentak.

“Kak Handa diam saja. Fitri panggil Kak Handa malah pergi," lanjut Fitri.

Malamnya. 

Inong berurai air mata. Melipat sajadah dengan tubuh gemetaran. Sepintas ia melihat Handa berjalan di depannya ketika ia bangun dari sujud. Hanya sekilas. Tak kuat Inong terjatuh di lantai masih memeluk sajadah. Pingsan.

Fandi panik.

Para tetangga mengelilingi Inong yang terbaring di ranjang.

"Nong. Sadar, Nong," panggil Bu RT.

“Kasihan Inong. Dia masih belum bisa menerima," bisik Bu Munar pada Bu Jais.

"Namanya juga anak, Bu," sahut Bu Jais.

"Anakku. Anakku sayang. Handa.... Jangan ambil anakku. Handa, ini mama, Nak," jerit Inong, histeris. Setelah itu pingsan lagi.

Fandi terpaku di pintu. Sampai kapan cobaan ini akan berakhir? Handa sudah tenang sudah kembali pada Tuhan Sang Pencipta, tapi istrinya masih labil. Butuh waktu lama bagi Inong untuk bisa menerima sepenuh hati kepergian tiba-tiba. Ia tak tahu esok dan seterusnya harus berbuat apa. Ridho mungkin jalan terbaik. Mungkin di pengajian nanti Inong akan mendapat banyak petuah. Fandi berharap Inong akan menghadiri pengajian seperti dulu lagi. Bertemu banyak teman. Mendapat siraman rohani. Jiwanya yang patah mungkin akan tersembuhkan.

"Mengapa cobaan ini begitu berat? Apa salah kita hingga Handa harus pergi?"

"Manusia tidak pernah tahu rahasia Tuhan, Nong."

Mereka sama-sama menangis.

Tengah malam.

"Jangan ambil anakku. Jangan...," Inong mengigau. Air mata menetes keluar dari kedua matanya yang terpejam.

Fandi mengurut dada. Mungkin ia harus lebih menenangkan Inong. Membujuk agar melupakan yang sudah terjadi. Mengikhlaskan Handa. Karena hidup ini hanya sepintas. Hidup hanya perjalanan dalam pergulatan manusia menuju kekekalan di akhirat kelak. Semua pasti kembali pada-Nya dengan cara berbeda. Semua terjadi sesuai takdir. Sebagai umat mereka harus tabah. Ridho. Karena, Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya.


KETERANGAN:

Kai = Kakek
Keriyau = Panggil (dipanggil makhluk halus)
Hantu Banyu = Hantu Air
Julak = Bibi/Paman (kakak ayah atau ibu)
Ikam = kau
Mamanda= salah satu teater tradisional suku Banjar.
------------------------------------------------------

Sumber cerpen: buku Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia

Sumber biodata: Ensiklopedia Sastra Kalimantan Timur

Sumber foto: Laman Yuni Rahmat


0 comments: