Monday, March 1, 2021

Berkarya Sastra Tidak Sekadar Menulis


Orang tidak mungkin bisa berbicara tanpa terlebih dahulu menyimak atau mendengarkan. Logikanya, apa yang akan diucapkannya jika sebelumnya ia tidak pernah mengetahui kata-kata melalui indera pendengarannya. Orang yang tunarungu mengalami hal seperti itu sehingga otomatis dirinya juga tunawicara. Lantas bagaimana dengan menulis?

Dalam kaitannya dengan keterampilan berbahasa, memang urutannya adalah membaca lalu menulis. Di sekolah atau di rumah pun demikian adanya. Anak-anak diajarkan untuk bisa dan terampil membaca. Barulah setelah itu diajarkan bagaimana caranya menulis.

Di atas adalah aktivitas menulis awal. Kemudian, apakah dalam menulis pada tingkat selanjutnya atau lanjutan semisal menulis cerita pendek, puisi, dan lainnya juga perlu membaca terlebih dahulu?

Sebelum menulis cerpen dan lainnya, tentu ada aktivitas pramenulis seperti berkunjung ke sebuah tempat untuk mendapatkan data-data atau melalui studi kepustakaan, yaitu membaca buku dan bacaan lain yang diperlukan.

Aktivitas pramenulis ini sangat penting. Bayangkan saja, apa yang hendak kita dituliskan jika tidak memiliki data-data pendukung? Boleh jadi menulis hanya perlu waktu dua jam. Akan tetapi, aktivitas pramenulis bisa memakan waktu yang lebih panjang.

Nah, pramenulis sendiri tidak hanya mencakup dua hal di atas (terjun ke lapangan dan atau studi kepustakaan). Sebelum melakukan keduanya atau salah satunya saja, diperlukan penentuan tema, subtema, dan kerangka karangan.

Di bawah ini ada video contoh terjun di lapangan dan sekaligus studi kepustakaan. 



Di samping itu, setelah menulis pun ada aktivitas pascamenulis, yaitu pembacaan, penyuntingan, dan perbaikan agar hasilnya dapat lebih memuaskan. 


0 comments: