Friday, June 4, 2021

Pesona Haiku, dari Aforisma hingga Metafora, Sebuah Catatan Kecil Dimas Arika Mihardja


“Hai, salam jumpa.”

Begitu salam dan sapaku, “haiku”, kepada Anda pencinta haiku. Tahukah Anda awal tahun 2015 ada peristiwa budaya yang layak dicatat dan diberi tempat? Peristiwa budaya itu terkait lahirnya Newhaiku—sebuah grup facebook yang dimaksudkan memperkenalkan haiku versi Indonesia. Maksudnya? Ya, haiku itu tergolong sajak pendek, padu, padat milik bangsa Jepang. Dan  Newhaiku yang dilahir-hadirkan oleh Kurniawan Junaedhie (KJ) dan Esti Ismawati(EI)—sepasang mempelai sastra Indonesia yang tiada mati ide dan kreativitasnya berusaha menawarkan haiku versi Indonesia, Newhaiku.

Newhaiku, haiku baru versi Indonesia ini diakui atau tidak merupakan upaya membumikan haiku di persada nusantara sebagai satu alternatif pilihan di antara pilihan lainnya: puisi 2koma7 (dua lariktujuh kata) grup yang telah eksis lebih dulu, puisi PADMA 4444 yang dipandegani oleh Imron Tohari, puisi Persagi, puisi Sonian, dan lainnya. Kelahiran dan kehadiran genre puisi-puisi ini mengundang dan mengandung kontroversial, pro dan kontra. Namun,grup-grup puisi ini tetap eksis dan diminati banyak orang. Rupanya grup-grup puisi ini selain memberikan tawaran alternatif berekspresi, juga mewadahi interaksi interpersonal di antara anggotanya. Jika grup puisi 2koma7 telah menerbitkan 4 (empat) buku: “Puisi 2koma7Apresiasi dan Kolaborasi”, “Mendaras Cahaya”,” Nyanyian Kafilah”, dan “Jalan Terjal Berliku Menuju-Mu” (semua diterbitkan oleh Bengkel Publisher tahun 2014 dan 2015), kini grup Newhaiku dengan motor Kurniawan Junaedhie dan Esti Ismawati menerbitkan buku ini: “Ayo Menulis Newhaiku: Teori, Aplikasi, dan Apresiasi”.


Hai, sahabat haiku dan pencinta buku,

Saya diminta memberikan apresiasi 100 Newhaiku karya KJ dan 100 Newhaiku karya EI. Saya menawarkan judul apresiasi ini “Pesona Haiku: Dari Aforisma hingga Metafora”. Apresiasi puisi, meminjam istilah S. Effendi merupakan kegiatan menggauli puisi dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta puisi(2002:6). Apakah saya sanggup “menggauli” 200 haiku karya KJ dan EI? Tentu saja saya tidak sanggup, tetapi dalam “mengauli” puisi diperlukan juga teknik amandan nyaman, yakni menangkap momentum puitik, hal-hal yang estetik, dan menggelitik. Hal terakhir, “menggelitik” ini menjadi penting dalam apresiasi. Hal yang saya anggap menggelitik itu ialah pesona haiku. Hal yang memesona haiku—terlebih newhaiku dalam buku ini ialah persoalan aforisma dan metafora.

Dengan sederhana aforisma dapat diberi pengertian sebagai ungkapan puitik, estetik, berisi pemikiran menggelitik yang tampil secara kharismatik. Mungkin berupa ungkapan kearifan, kebijaksanaan, pemikiran dan lebih jauh refleksi filosofis penyair. Hampir mirip dengan aforisma, puisi pendek yang disebut newhaiku ini ditandai oleh berkelelebatnya pemakaian metafora. Metafora, dan variannya seperti simile, sinekdoki, personifikasi dan ungkapan kias lainnya menjadikan puisi memiliki daya tarik memantik rangsang tanggap pembaca.


Hai pencinta haiku dan newhaiku,

Yuk sama kita baca newhaiku berikut ini. Saat membaca newhaiku, kita cermati perilaku puisi seperti larik dan pertalian maknanya, makna lugas, pengimajian, pengiasan, pelambangan, makna utuh, nada dan suasana,kemanisan bunyi dan makna ya? KJ menulis newhaiku seperti ini, yuk kita nikmati percik pesonanya :

AJAL

Di pundak kura
Kita beringsut maju
Sampailah ajal.

2015

Haiku “Ajal” dilihat dari perilakunya sungguh memesona, pelan tetapi pasti semua makhluk menuju ajalnya dan perjalanan kubur itu, ajal itu dibandingkan dengan kura-kura, sehingga newhaiku “Ajal” ini tidak membuat pembaca ngeri, melainkan dapat menikmati dan menghikmatinya berdasarkan pemahaman dan penghayatan. Makna lugas, makna kias, perlambangan, makna utuh,dan nada serta suasana puisi ini melahirkan aforisma dan metafora memesona.

KAFILAH

Tak pernah letih
Arungi hari-hari
Seperti kafilah.

2015

Newhaiku “Kafilah” lebih menonjol makna lugas dan kurang mengeksplorasi pengiasan, perlambangkan, akibatnya “pernyataannya” kurang mengekspresikan perilaku puisi yang lazimnya menggunakan ungkapan tidak langsung seperti newhaiku “Ajal”.Newhaiku “Berbatu” berikut ini menampilkan perilaku puisi yang komplit: makna lugas,makna kias, makna utuhnya menampilkan aforisma dan metafora memesona. Yuk sama kita baca:

BERBATU

Hawa dingin
Jalan berbatu
Antar aku ke rumah-Mu.

2015

Newhaiku “Berbatu” mengingatkan saya pada buku “Jalan Terjal dan Berliku Menuju-Mu”—sebuah buku puisi 2,7 yang didedikasikan kepada penyair Diani Noor Cahya yang mendharmabhaktikan hidupnya sebagai admin grup puisi 2koma7 hingga ajal memengekalkan cintanya. Jalan yang ditempuh untuk memjukan sastra, memasyarakatkan puisi, memang penuh batu dan berliku, tetapi jalan puisi itu insha Allah mengantarkannya kepada-Nya, amin. Sebuah Newhaiku KJ yang mengajak memeras air mata haru bertajuk “Ingat Ibu”. Yuk sama menangis haru membaca puisi ini:

INGAT IBU

Menghirup sunyi
Teringat ibu
Neteslah air mata.

2015

Newhaiku “Ingat Ibu”merupakan representasi kerinduan, cinta, kasih sayang yang sakral dan tak mengenal pamrih. Ketika seseorang disergap sunyi, sendiri, lalu teringat padaibu nun jauh di sana, maka wajarlah air mata menetes haru penuh rindu dansendu. Rupanya, newhaiku selain memesona dengan aforismanya, rima dan iramanya, juga dapat tampil dengan kelugasannya seperti “Belajar pada Laut ”berikut:

BELAJAR PADA LAUT

Luas dan dalam
Terima baik buruk
Tetap legowo.

24.02.2015

KJ yang lugas, tidak ingin menceramahi, mendikte, otoriter dalam mendidik dengan lugas ia nyatakan “terima baik buruk/Tetap legowo”. Makna belajar pada lautialah terkait dengan luas dan dalamnya. Keluasan wawasan dan kedalaman penghayatan keilmuan hingga pada akhirnya dapat menerima baik dan buruk secaralegowo. Pada “Pagi Berbinar” KJ mengajak kita memasuki khasanah ambiguitas dengan diksi yang segar dengan mengeksplorasi rima “ar”. Yuk kita nikmati bersama:

PAGI BERBINAR

Pagi berbinar
Hati tergetar-getar
Merasa nanar.

23.02.2015

Newhaiku yang lebih mengekplorasi suasana hati tampil melalui “Bulan Sabit”. Suasana hati itu menjadi karakteristik haiku seperti juga hadirnya lanskap alam. Ayo sama kita nikmati:

BULAN SABIT 2

Bulan yang sabit
Bikin hati merindu
Saat sendiri.

2015


BULAN SABIT 3

Rembulan sabit
Kobarkan rasa rindu.
Nyala di mimpi

2015


BULAN SABIT 4

Dibening kolam
Kita, dan bulan sabit
Pantulkan rasa damai.

2015

Filosofi “Dimana Bumi Dipijak Di sana Langit Dijunjung” meronai newhaiku KJ berikut ini. Cermati metafora dan aforisma yang memesona:

JALAN 

Sudah menghilang
Bersama angin lalu
Jalan berpintu.

2015

KERING 

Sudah terlanjur
Lewati persimpangan
Kering air mata.

2015

TAK SAMAR

Cinta yang kekal
Slalu berpendar-pendar
Tak pernah samar.

23.02.2015

MUSNAH

Kubilas kata
Rindu kusaring
Keraguan pun musnah.

20.02.2015

BERANI

Menatap langit
Cintai bumi
Hidup harus berani.

20.02.2015

Newhaiku yang ditulis KJ rata-rata memesona oleh adanya aforisma dan metafora. Masuknya aforisma dan metafora pada newhaiku merupakan upaya kreatif memberikan sentuhan estetis dan filosofis dalam perkembangan seni puisi haiku. Itulah sebabnya lalu disebut newhaiku. Haiku yang diberi ruh dan sentuhan baru. Bagaimana kreasi EI terkait newhaiku? Berikut ini saya turunkan beberapa karyanya.

Newhaiku Esti Ismawati yang istimewa dapat kita baca, di antaranya:

BERSEMBUNYI

di ufuk barat
cahaya gelap pekat
bulan sembunyi

28-02-15

Pada “Bersembunyi” EI mengeksplorasi menanisan bunyi “at” dan mengeksekusi kesan perasaannya pada larik terakhir “bulan tersembunyi”. “Di ufuk barat/ cahaya gelap pekat” Ini selain memiliki makna lugas juga bermakna kias “Negara-negaraBarat” mengalami kegelapan syariat. Sebagai wanita penyair, akademisi yang telah bergelar hajah, ia menyampaikan “Pesan” secara halus, tersamar, danelegan: “tolong sampaikan/pada bunga flamboyant/jangan jatuh”. Saat seseorang mendapat kedudukan, posisi, peran elegan, diberi pesan “jangan jatuh”.

PESAN

tolong sampaikan
pada bunga flamboyan
jangan terjatuh

28-02-15

Pada puisi “Doa” EI mengorbankan bahasa demi tercukupinya jumlah suku kata haiku yang berpola 5-7-5, akibatnya kata “selamat” ditulisnya dengan sengaja “slamat” sebagai bentuk licentia poetica—kebebasan penyair menggunakan bahasanya secarasadar. Saya selaku pembaca benar-benar dapat menangkap keindahan cinta pada puisi “Indah” berikut:

INDAH 

menyelam aku
ke dalam palung hati
indah cintamu

28-02-15

Pada “Singa Tua” saya teringat KJ. Newhaiku EI ini sepertinya didedikasikan pada KJ yang dimetaforakan sebagai singa tua yang tak kenal lelah, mengaum dalam sunyi,torehkan karya.

SINGA TUA

tak kenal lelah
mengaum dalam sunyi
torehkan karya....

28-02-15

Membaca newhaiku karya EI terasa “Damai” sebab ditulis secara “Ikhlas”. Sama kita simak kedamaian dan keikhlasan itu.

DAMAI

hati tenteram
pikiran sejuk tenang
alam tafakur

Klaten, 20-02-15

IKHLAS

di unggun malam
sepotong senyum
hangatkan jiwa raga

Klaten, 20-02-15

Hal yang menarik, seperti dilakukan oleh penyair sebelumnya seperti Sapardi Djoko Damono, Darmanto Jatman, Linus Suryadi AG, EI memaswukkan dunia pewayangan dalam newhaiku. Di “Kurusetra” seperti Mahabarata—merupakan medan laga antara kebenaran, kejujuran, kebaikan, dan keserahanan, ambisi, nafsu berkuasa.Ungkapan right or wrong my country, menjadi terkenal dari mulut “Radeen Kumbukarno”—seorngraksanaa berjiwa kesatria yang gigih bela Negara. Kita diperkenalkan dengan“Raden Puntadewa” raja Amarta yang dikenal berdarah putih, jujur, dan tidak mauberbohong.

KURUSETRA

di medan laga
hitam putih berperang
demi martabat

Klaten, 20-02-15

RADEN KUMBAKARNO

semboyan hidup
'baik buruk negriku'
kan ku bela

Klaten,20-02-15

RADEN PUNTADEWA

tubuhnya putih
hati dan pikir bersih
langkahpun lurus

Klaten,20-02-15

Membaca newhaiku karya KJ dan EI ada beberapa catatan kecil sebagai berikut. Pertama, makna lugas dipakai oleh KJ dan EI dalam newhaiku. Makna lugas inilah yangpertama-tama dipahami oleh pembaca. Pembaca harus memahami makna lugas ini untuk memahami makna utuh newhaiku. Kedua, penggunaan kata kongkret dan khas serta penataan kata-kata itu dalam tiga larik newhaiku sedemikian rupa sehingga menggugah timbulnya imaji disebut pengimajian atau pencitraan. Ketiga,pengiasan dalam newhaiku merupakan penggunaan kata atau ungkapan dalam sajak demikian rupa sehingga timbul makna kias yang dapat memperkongkret, memperlengkap, mempercermaat, dan memperkhas imaji sesuatu yang diungkapkan dalam sajak, yang hasilnya berupa aforisma atau metafora yang memesona. Keempat, oleh karena newhaiku tergolong puisi pendek, padu, padat, maka diperlukan perlambangan. Perlambangan adalah penggunaan kata atau ungkapan dalam sajak sedemikian rupa sehingga timbul makna lambang yang dapat  memperkongkret, memperlengkap, mempercermat, dan memperkhas imaji sesustu yang diungkapkan dalam sajak. Kelima, makna utuh newhaiku dapat dipahami, dihayati dan diapresiasi apabila makna tersurat dantersirat memiliki hubungan yang terjelma karwna adanya  hubungan saling menentukan antara pengimajian, pengiasan, dan pelambangan.


Hai sobat newhaiku,

Makna keseluruhan sebuah sajak pada hakikatnya adalah sebuah pengalaman penyair,pengalaman indra maupun pengalaman nalar, yang diungkapkan dengan bahasa yang khas (dengan pengimajian, pengiasan, pelambanan) sehingga pengalaman itu hadir utuh-menyeluruh pada sajak yang dapat ditangkap oleh pembaca sebagai sesuatu yang kongkret, padat, dank has serta sugestif atau menggugah nalar dan batin pembaca. Keseimbangan antara perasaan nikmat dan perenungan perlu tetapterpelihara ketika kita membaca dan berusaha memahami makna utuh sebuah newhaiku.

Sampai di sini, Anda telah secara aktif dan intensif berusaha menyelami dan mengapresiasi newhaiku karya KJ dan EI untuk memahami makna lugas, kias, lambang, sesuai dengan perilaku penampilan newhaiku. Newhaiku dengan nada yang tersurat dan terang-terangan mengajari biasanya tidak bias meyakinkan bahwa ajarannya itu benar. Newhaiku dengan nada tersirat dan tidak mengajari pembaca dapat meyakinkan kita selaku pembaca. Kita selaku pembaca tahu, pelambangan atau pengiasan yang tidak tepat dapat mengaburkan makna utuh newhaiku, dan dapat menghilangkan kemaampuan nada dan suasana newhaiku mengugah hati pembaca.Pengiasan atau pelambangan yang tepat dapat mengungkapkan makna yang jelas dan menjelmakan nada serta suasana  newhaikuyang menggugah hati pembaca serta memesonanya. Terakhir, penggunaan kata-kata abstrak dan muluk dalam newhaiku dapat menggagahkan nada dan suasana. Kegagahan biasanya tidak meyakinkan pembaca, ridak menggugah atau memikat. Sebaliknya, pengunaan kata-kata sederhana dan kongkret dalam newhaiku dapat mewajarkan nadadan suasana. Kewajaran biasanya meyakinkan pembaca, mengugah dan memikat.Newhaiku—seperti haiku asli Jepang sangat menonjolkan nada dan suasana.

Salam Budaya,

Dimas Arika Mihardja

Penyair, akademisi, pencinta budaya

---------------------------------------------------------

Sumber tulisan: Tuas Media
Sumber ilustrasi: Pixabay

0 comments: