Mimpi dan Hidup
Mendapat uang perak dan emas,
Lekas digenggam kuat dan keras,
Takut 'kan hilang orang rampas,
Kemudian terinsyaf bangun,
Tiada sesen di dalam kantung?
Mengumpul harta dunia,
tenaga cepat lekas,
Inginkan harta limpah-limpahan,
Kemudian...
Diusung ke kubur
Di dalam kafan?
Mimpi dan Hidup mana yang benar,
Dalam kedua tiada bawaan.
1942
Sumber: : Darah Laut, Kumpulan cerita pendek dan puisi (Balai Pustaka, Jakarta, 1997)
Ciptakan Dunia Bahagia
Walau seabad hidup di dunia
Hanya sedetik di samudra masa,
Lebih hebat menderita raga dan jiwa
Oleh dikacau nafsu kebendaan,
Hilangkan angkara murka
Ciptakan bahagia di stasiun antara
Dari keabadian ke keabadian
1945
Sumber: : Darah Laut, Kumpulan cerita pendek dan puisi (Balai Pustaka, Jakarta, 1997)
Doa
Oleh gempa peperangan dunia
Dalam sedih dan duka dunia berjuang
Terlahir Negara Indonesia Merdeka
Senantiasa ingat kepada Tuhan
Penjelmaan lahir segala yang indah
Di dalam laku dan perbuatan
Dalam pekerjaan bangsa kami
Turut membentuk perdamaian dunia
Manusia utama lahir dan batin
1945
Sumber: : Darah Laut, Kumpulan cerita pendek dan puisi (Balai Pustaka, Jakarta, 1997)
Perbaruan Tekad
Kudengar suaramu penyanyi radio
Engkau menghibur hati dan jiwa
Orang yang sakit badan merana
Kubaca madahmu, wahai pengarang
Kau alirkan rasa, kau atur pikiran
Terkuak kegelapan, menyinar benderang.
Dokter dan suster, mantri dan kacung
Bekerja bersama dalam susunan
Melawan penyakit menumpas derita.
Saling membantu bahagia membahagiakan
Ya, Tuhan, kembalilah tenaga, kuatlah sayapku,
Aku ingin turut berbakti.
1945
Sumber: : Darah Laut, Kumpulan cerita pendek dan puisi (Balai Pustaka, Jakarta, 1997)
Dalam Kenangan
Orang yang mati dan orang yang hidup
Yang mati dan hidup keduanya
Hidup dalam kenangan?
Tinjaulaut, 21-2-'43
Sumber: H.B. Jassin, Kampulan Cerpen dan Puisi, Darah Laut (Balai Pustaka, Cet. 3, 2009)
H.B. JASSIN lahir di Gorontalo, 13 Juli 1917. Setelah menamatkan Gouverments HIS Gorontalo pada tahun 1932, Jassin melanjutkan ke HBS-B 5 tahun di Medan, dan tamat akhir 1938. Pada saat itu ia sudah mulai menulis dan karya-karyanya di muat di beberapa majalah.
Setelah sempat bekerja sukarela di kantor Asisten Residen Gorontalo selama beberapa waktu, ia menerima tawaran Sutan Takdir Alisjahbana untuk bekerja di badan penerbitan Balai Pustaka tahun 1940. Setelah periode awal tersebut, H.B. Jassin menjadi redaktur dan kritikus sastrarpada berbagai majalah budaya dan sastra di Indonesia; antara lain Pandii Poestaka, Mimbar Indonesia, Zenith, Sastra, Bahasa dan Budaya, Horison dan lain-lain.
"Tifa Penyair dan Daerahnya "(1952), "Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik dan Esai I-IV" (1954), Heboh Sastra 1968 (1970), "Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia" (1983), “Pengarang Indonesia dan Dunianya" (1983), "Surat-Surat 1943--1983" (1984), "Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa" (1993), “Koran dan Sastra Indonesia" (1994), “Darah Laut : Kumpulan Cerpen dan Puisi"(1997), "Omong-Omong HB. Jassin" (1997) dll.
Untuk jasa-jasanya di bidang kebudayaan pada umumnya, Jassin menerima Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 20 Mei 1969. Tanggal 24 Agustus 1970, Gubernur DKI (saat itu: Ali Sadikin) mengangkat Jassin sebagai anggota Akademi Jakarta (yang diketuai S. Takdir Alisjahbana). Keanggotaan ini berlaku untuk seumur hidup.
Jassin menerima Hadiah Martinus Nijhoff dari Prins Bernhard Fonds di Den Haag, Belanda karena karya terjemahannya Multatuli, "Max Havelaar" (Jakarta: Djambatan 1972). la juga memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari UI. Untuk jasa-jasanya di bidang kesenian dan kesusastraan, Jassin menerima Hadiah Seni dari atas karya Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1983.
la wafat di Jakarta, 11 Maret 2000 pada umur 82 tahun.
Sumber tulisan: Lautan Waktu: Sepilihan Puisi Klasik Indonesia
Sumber foto H.B. Jassin: Wikipedia
0 comments:
Post a Comment